Berhati Jujur Sejati
Rahasia pertama dalam keberhasilan kepemimpinan sebuah bisnis, adalah kejujuran dan sekali lagi kejujuran. Seringkali hal ini kita bandingkan dan simpulkan dengan banyak permasalahan yang dialami oleh para pemimpin perusahaan yang mempunyai permasalahan, yang disebabkan oleh adanya ketidakjujuran dalam melayani pelanggannya. Beberapa pengalaman yang terjadi pada saat rapat pimpinan, seringkali berlangsung lama dan banyak kesulitan serta ketegangan, bahkan tidak menghasilkan keputusan sama sekali, disebabkan karena adanya ketidakjujuran dari satu atau lebih dari anggota rapat pimpinannya. Dalam situasi rapat yang seperti itu, para pemimpin menjadi tidak bisa tenang dan dapat memberikan kemampuan terbaiknya.
Para pemimpin perusahaan korporasi, mereka adalah orang-orang yang dipilih dengan persyaratan yang sangat ketat, bahkan kita sering mendengan dengan istilah “Fit and Proper Test” Sesuai dan tepat. Orang-orang seperti mereka tidak saja hanya sekedar jujur dalam memimpin, namun bahkan kelewat jujur dalam segala kehidupannya. Dalam tugas tanggung jawabnya, selalu berkeinginan untuk mengetahui kebenaran, walaupun itu dirasakan terkadang terasa sakit dan pahit bagi dirinya. Namun disisi lain mereka merasakan, bahwa kejujuran mampu memberikan kemampuan untuk menghasilkan keberhasilan yang terbaik. Dengan demikian kejujuran bukan saja konsep yang mulia, melainkan juga alat untuk mencapai keberhasilan pribadi dan bentuk uasaha lain.
Bersikap Adil
Keseriusan sikap dalam mewujudkan keadilan menjadi ciri para pemimpin. Semua orang yang hidup dan bekerja dalam keadaan dan situasi apapun selalu ingin diperlakukan adil. Menyadari akan hal itu, para pemimpin akan melakukan apa saja yang mereka katakan, dan tidak akan melakukan seperti yang mereka tidak akan lakukan. Kesemuanya itu akan mereka laksanakan dengan kejujuran tanpa pandang bulu. Bentuk lain keadilan yang sering kita ketahui dari seorang pemimpin adalah dengan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengajukan pertanyaan.
Bagi seorang pemimpin, bersikap adil hanyalah sekedar kewajiban moral. Sikap adil bagi mereka bukan saja karena menjadi seorang pemimpin diharuskan untuk bersikap adil, melainkan mereka melihat persamaan kebutuhan sebagai orang yang hidup di dunia ini. Bagi mereka, semua orang adalah sama, kita semua adalah sama-sama sebagai umat ciptaan Tuhan Yang maha Esa. Keadilan adalah cara segala sesuatu berpadu secara bersama-sam dalam kehidupan di dunia ini. Ketika seseorang berlaku tidak adil, berarti telah mengganggu kedamaian hidup di dunia ini. Namun apabila kita bersikap adil, maka kita telah berpartisipasi dalam membentuk kedamaian di dunia yang sesungguhnya.
Mengenali diri sendiri
Sejak kita terlahir dari rahim Ibu, suara tangis kelahiran dianggapnya sebagai tanda kehidupan, yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga, kerabat dan bahkan masyarakat sekitar kita. Menit demi menit, hari demi hari kehidupan kita sangat diperhatikan. Kita secara terus menerus dilatih untuk bisa hidup lebih sehat, kuat dan bahagia. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kehidupan kita di dunia ini sudah ditakdirkan untuk belajar, oleh karena itu, jika kita berhenti belajar, berarti kita mendekati kematian dan pada akhirnya akan cepat mati.
Menjadari akan bahwa apa yang sudah dikaruniakan dalam kehidupan kita, pikiran, tubuh , jiwa adalah alat-alat untuk menjalankan kegiatan kehidupan kita, maka sudah seharusnya kita mempergunakannya dengan benar akan manfaatnya bagi kita dan orang lain. Oleh karena itu sebagai pemimpin haruslah menyadari untuk memberikan perhatian yang tulus dan sepenuhnya untuk mempelajari motivasi, riwayat dan perasaan orang lain.
Sebagai pemimpin selalu berusaha mempelajari diri sendiri dan sekaligus berusaha membantu orang lain untuk dapat mempelajari dirinya masing-masing. Pemimpin seperti ini, selalu berusaha untuk memberikan kesempatan orang lain untuk bertanya tentang apa saja yang perlu dijelaskan atau apa saja yang masih kurang jelas darinya. Ada kalanya pemimpin meminta pendapat kepada orang laing tentang kekurangannya secara langsung. Mereka berpendapat bahwa tidak ada satupun manusia didunia ini yang selalu sempurna. Demikian pula tidak ada satupun manusia didunia ini layak menilai sempurna dirinya.
Nilai kesempurnaan dari diri kita masing-masing sangat ditentukan oleh bagaimana diri kita telah memberikan kedamaian hati orang lain. Inilah yang disebut dengan rendah hati. Meminjam falsafah tanaman padi, yaitu: beras yang rasanya enak, berasal dari tanaman padi yang tinggi dan buahnya menunduh ke bawah. Ini memberikan arti, bahwa semakin berpotensi, semakin besar tuntutan untuk belajar dan berkembang untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
Beberapa cara yang sangat penting untuk memperoleh pengenalan diri sendiri, yaitu: Pertama, mau mengakui dan menghargai perasaan yang dimiliki sesuai apa adanya. Kedua, memahami akan pembentukan diri berdasarkan riwayat masa lalu. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang riwayat, kekurangan dan kelebihan kita. Dengan demikian kekurangan itu tidak akan menghambat atau mengganggu kondisi di masa sekarang. Ketiga, selalu terbuka menerima umpan balik, bahkan kritik yang pedas sekalipun.
Fokus pada kontribusi/sumbangsih
Pemimpin yang berhasil, juga ditengarahi dengan sikapnya yang memperhatikan kesejahteraan dan pemberdayaan kepada orang lain. Mereka mempunyai pendapat, bahwa memberikan kontribusi atau sumbangsih kepada orang lain merupakan faktor yang sangat penting. Kepuasan kerja mereka adalah didasarkan dari seberapa besar tingkat pencapaian kontribusinya atau sumbangsihnya kepada orang lain, masyarakat, organisasi, perusahaan.
Pengalaman ini, pernah saya rasakan sendiri, ketika saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di sebuah perusahaan asing yang berskala besar selama 22 tahun. Kurang lebih dua tahun sebelum, saya diangkat oleh pemerintah melalui departemen Perindustrian Jatim sebagai Koordinator Pembina Industri Kecil Menengah. Selain itu saya juga telah banyak diminta sebagai konsultan di beberapa perusahaan. Kegiatan saya diluar perusahaan semakin hari semakin padat, semakin banyak tantangan, semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan. Oleh karena itu, saya merasa terpanggil untuk dapat memberikan sumbangan kemampuan dan membagi pengalaman. Dengan berbagai pertimbangan yang cukup matang, terutama tekad untuk lebih dapat memberikan kontribusi atau sumbangsih kepada orang yang membutuhkan, maka saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang telah membesarkan saya selama 22 tahun. Kini, sampai kini saya menemukan kehidupan saya sebagai konsultan, pengajar, pembimbing, di dunia pendidikan maupun di dunia industri, maupun organisasi masyarakat.
Bekerja lebih Efisien
Bekerja dengan efisien adalah suatu kredo atau semboyan bagi setiap pemimpin yang berhasil. Mereka mencurahkan seluruh perhatiannya untuk belajar agar bisa memusatkan perhatian pada saat kini saja, bukan masa lalu dan atau masa depan. Alasannya, bahwa saat kini, adalah kesempatan terbaik untuk melakukan pengembangan. Pemikiran itu didasarkan pada alasan bahwa jika kita berada pada saat kini, waktu akan menjadi mudah dilalui dan keberhasilan akan dapat dicapai. Namun jika kita berada dalam genggaman masa lalu atau masa depan, kita tidak akan mempunyai waktu yang cukup, karena kita akan dipaksa berada di dua tempat pada waktu yang bersamaan. Jika hal ini terjadi, akibatnya akan mempengaruhi pikiran kita tidak fokus, dan akan muncul tekanan dan ketegangan. Oleh karena itu, hanya dengan memusatkan perhatian pada waktu kini saja, maka kita akan berhasil menguasai jalannya waktu dan keberhasilan dengan efektif dan efisien. Semboyannya adalah: Waktu adalah kesempatan yang berharga, dan kesempatan itu tidak akan terulang kembali.
Membangkitkan yang Terbaik Dalam Diri Sendiri dan Diri Orang Lain
Kebersihan, merupakan simbol atau lambang yang dianut oleh para pemimpin yang berhasil. Sebagai pribadi yang unggul, para pemimpin menjunjung tinggi kebersihan jiwa atau batin atau jati diri. Mereka memusatkan perhatian pada jati diri mereka dan rekan kerja mereka dan selalu memeliharanya keadaan itu dengan baik. Jati diri sering kali dicirikan oleh rasa ingin tahu, penasaran, dan keterbukaan dalam berinteraksi dengan orang lain, kualitas yang seringkali tersamarkan dalam proses pendewasaan diri. Oleh karena itu setelah kita dapat mengenali jati diri kita, kita akan merasa tenang di mana dan kapan pun kita berada.
Karena pengalamannya, para pemimpin mampu mengembangkan visi ganda, yaitu mampu melihat topeng dan jati diri orang lain. Kemanpuan ini sangat berguna pada saat menghadapi orang-orang yang menyulitkannya atau mampu melihat dan menghargai jati diri orang yang baik kepada dirinya. Mengetahui dengan baik jati diri orang lain, para pemimpin mampu melakukan mendapatkan umpan balik yang seimbang. Hal ini sangat berguna untuk mengembangkan perubahan perilaku yang penting akan sikapnya terhadap peningkatan pengetahuaannya untuk menguasai orang lain.
Bersikap Terbuka Menerima Perubahan
Seorang pemimpin yang berhasil selalu memiliki rasa hormat, bahkan rasa senang, akan adanya perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka sadar bahwa segala sesuatu yang terjadi di kehidupan di dunia ini karena adanya perubahan. Semua yang ada di dunia akan berubah dan semuanya pasti berubah pada waktunya. Walaupun adakalanya mereka merasa kurang puas akan arah perubahan tersebut, tetapi mereka berupaya agar perasaan itu tidak menghambat kemampuan mereka untuk bereaksi menghadapi perubahan tersebut.
Para pemimpin yang berhasil juga mempunyai kemampuan untuk menerima pendapat yang berbeda, sekalipun tahu bahwa dirinya bisa lebih benar. Hal ini menunjukkan adanya sikap terbuka untuk menghargai orang lain. Bersikeras mempertahankan pendapat sendiri seringkali dapat merugikan, karena sikap tersebut dapat membutakan mata akan perlunya dilakukan perubahan. Namun jika mereka mempertahankan pendapatnya dan menang, maka mereka akan menjelaskan dengan bersikap menang-menang. Tetapi jika mereka ternyata kalah, maka mereka bersedia mengakui kekurangannya dan memberikan sanjungan penghargaannya.
Sikap para pemimpin dalam memberikan kepuasan kepada para pelanggan, juga ditentukan dari bagaimana mereka mau mendengar keluhan pelanggannya. Sikap seperti ini berguna untuk mendapatkan fakta dan data yang lebih lengkap, karena si pelanggan mau menjelaskan segala kebutuhan yang diinginkan. Menjadi pendengar yang baik, juga merupakan faktor penentu dari keberhasilan awal dalam memberikan kepuasan pelanggan.
Mempunyai Visi jauh ke Masa Depan dan Fokus Perhatian di Depan Mata
Para pemimpin yang berhasil, kebanyakan memeliki kelebihan visi untuk dapat mengajak orang lain ke dalam mimpi atau angan-angannya. Mereka sering kali memimpikan berada di masa depan dan menjabarkan misi dengan rinci akan cara-cara untuk menuju ke sana. Kemampuan inilah, seringkali kita menyebutnya sebagai pemimpin yang mempunyai Visi jauh ke Masa Depan dan Fokus Perhatian di Depan mata.
Kemampuan untuk memusatkan perhatian pada hal yang berbeda dan menjalin keduanya menjadi satu, merupakan sesuatu yang unik dari seorang pemimpin. Kemampuan ini berguna untuk melakukan koordinasi secara utuh dan efisien. Berbagai keputusan yang diambil berdasarkan rasa keutuhan ini akan menghasilkan iklim organisasi yang sehat dan memelihara rasa keadilan.
Para pemimpin juga mampu mengembangkan zona kehidupan, yaitu: kehidupan masa lalu, masa kini dan masa depan. Hal ini merupakan sebuah cara pendekatan yang bergerak merata dalam kehidupan menjadi faktor dalam persamaan. Untuk itu diperlukan kemampuan dalam menghadapi masa kini dengan baik, menghargai masa lalu, dan meramalkan masa depan agar bisa bekerja secara efektif pada zaman sekarang yang akan selalu berubah dengan cepat.
Sebuah contoh penggambaran seorang pemimpin yang mempunyai visi jauh kedepan, adalah John Kennedy, pada saat pelantikannya pada tahun 1961, mengajak orang-orang Amerika untuk pergi ke bulan. Walaupun pada awalnya impiannya ini dianggap oleh banyak orang merupakan hal yang tidak mungkin, tetapi pada kenyataannya impian itu terwujud juga.
Mengutamakan keseimbangan
Para pemimpin yang berhasil sangat menjaga keseimbangan hidupnya dengan sangat baik. Beberapa aspek kehidupan yang menjadi faktor penentu keseimbangan antara lain, adalah: keintiman (pernikahan, keluarga, dan sahabat dekat), pekerjaan, spiritualitas, dan komunitas (sosial dan politik). Jika faktor-faktor tersebut tidak dijaga keseimbangannya dengan baik, sering kali mempengaruhi kehidupannya sebagai pemimpin menjadi tidak lagi berhasil. Jika seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, pasti akan mempengaruhi faktor yang lainnya, seperti prestasi pekerjaannya akan terganggu, demikian sebaliknya. Orang yang menghabiskan waktu di kantor untuk menghindari permasalahan di rumah, justru akan memperparah permasalahan di rumah, yang menyebabkan mereka akan tenggelam dalam pekerjaan di kantornya.